Taat beragama adalah pangkal bahagia !
Sikap patuh dan taat yang sempurna di hadapan firman Allah dan sabda Rasulullah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar. Walau seringnya manusia mula-mula meragukan, namun keraguan itu selekasnya mesti dibuang jauh-jauh. Jika Allah dan rasul Nya telah menjatuhkan perintah, apakah masih ada keraguan yang tersisa?
Kisah mengharukan dan penuh berkesan ini tentang seorang wanita mulia di masa kenabian. Wanita shalihah itu bernama Fathimah bintu Qais Al Qurasyiyah Al Fihriyyah. Beliau berasal dari nasab dan garis keturunan yang mulia, suku Quraisy. Dikenal memiliki kecantikan dan kecerdasan. Nama Fathimah bintu Qais pun termasuk dalam deretan kaum Muhajirin pertama yang meninggalkan Mekkah demi agama.
Kehidupan di kota Madinah telah berubah cepat dengan kedatangan kaum Muhajirin. Mereka disambut dan diterima dengan penuh gembira dan ceria oleh kaum Anshar. Tidak ada kebencian, tidak ada keterpaksaan. Persaudaran yang tulus di atas pondasi keimanan dan ukhuwwah.
Di sebuah kesempatan, Fathimah bintu Qais ditalak oleh sang suami, Abu Bakar bin Hafsh Al Makhzumi. Talak yang ketiga. Setelah bertanya kepada Rasulullah, Fathimah pun menjalani masa-masa iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta dan terhitung kerabat Fathimah.
Waktu pun terus berjalan.
Selesai sudah masa iddah yang mesti dilalui oleh Fathimah bintu Qais. Lalu datanglah dua pinangan sekaligus dari dua sahabat mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm. Kedua pinangan tersebut disampaikan Fathimah kepada Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah menyarankan untuk menolak kedua pinangan tersebut.