Sabtu, 12 Desember 2015

Ada Apa dengan Syi'ah?

بِسْمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ

▪️✏️▪️▪️▪️▪️1⃣▪️

🌵Ada Apa dengan Syi’ah?


✏️Al Imam Ahmad bin Yunus berkata:

“Sesungguhnya kami tidak mau memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah, karena kami menganggap mereka telah murtad (kafir)”
[Lihat As Sunnah karya Al Khallal, 1/499].

✏️Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan agama Islam dan agama Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi akidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

✏️Agama Syi’ah (Rafidhah) sejak awal kemunculannya hingga hari ini, selalu membuat resah umat Islam. Bagaimana tidak? Pencetus pertamanya adalah Abdullah bin Saba’ Al Himyari, seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan. Di awal kemunculannya, ia tampakkan sikap ekstrim dalam memuliakan sahabat Ali bin Abi Thalib, dengan suatu slogan bahwa beliau lah yang berhak menjadi imam (khalifah) dan beliau adalah seorang yang  terjaga dari segala dosa (ma’shum). (Lihat Al Kamil Fit Tarikh karya Ibnul Atsir 3/154, Al Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir 7/176, dan Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 4/435).

Bagaimana Mungkin Kita Katakan Syi'ah Saudara Kita

بِسْمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

💥 BAGAIMANA MUNGKIN KITA KATAKAN SYI'AH SAUDARA KITA

🔥 BANTAHAN TERHADAP DAI PENDEKATAN AGAMA

🔊 Berkata guru kami[1] Rabi' bin Hadi al Madkhaly hafizhahullah

💥 Rafidhah melakukan kejahatan terhadap para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam yang tidak pernah dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani sekalipun.

⏯ Maka bagaimana mungkin kita akan menjadikan mereka sebagai teman?
⏯ Bagaimana mungkin kita akan mengatakan: Saudara-saudara kami, sedang mereka mengkafirkan shahabat, mengkafirkan isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, dan mereka mengatakan bahwa al-Qur'an telah diubah[2]!

❌ Mereka mengubah-ubah al-Qur'an dengan sengaja kemudian mengatakan bahwa para shahabat yang telah merubah-rubahnya.

📚 [Lihat Takaruma Makanatish Shahabah fil Islam (43)] (Disarikan oleh Fadhilatusy Syaikh Usamah bin Sa'ud al-'Amri hafizhahullah)

(Alih bahasa : Syabab Forum Salafy-forumsalafy.net)

⏹Telegram Selamatkan Indonesia dari Syiah

https://telegram.me/SelamatkanIndonesiadariSyiah

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Beberapa perubahan dari kami karena menyesuaikan EYD:
[1] kamai => kami
[2] dirubah => diubah

Syi'ah Berlumuran Darah

بِسْمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ

💣”Syiah Berlumuran Darah”🔫

✏️Hingga kini, Syiah masih dipahami oleh masyarakat awam sebagai “mazhab kelima” dalam Islam. Artinya, Syiah dianggap sekadar beda fikih dengan keumuman masyarakat muslim lainnya. Apalagi, Syiah acap menampilkan diri sebagai pembela ahlul bait, sebuah wajah yang terlihat “mulia”. Muncullah anggapan bahwa perbedaan Syiah dan Sunni (Ahlus Sunnah) adalah “sekadar” pembela dan bukan pembela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

✏️Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika masih saja muncul pembelaan yang dilakukan sebagian masyarakat terhadap Syiah. Di kalangan elite Islam, malah gencar ajakan untuk menyatukan Sunni (baca: Islam) dengan Syiah. Jika orang-orang yang masih punya semangat terhadap Islam mau lebih dalam menyelami agama bentukan Yahudi ini, niscaya dia akan menentang keras Syiah. Membincangkan Syiah bukanlah semata soal kekhalifahan Ali. Bukan pula sesederhana bahwa Syiah melakukan kultus individu kepada Ali. Terlalu dangkal jika kita beranggapan seperti itu.

✏️Syiah demikian sarat dengan ajaran menyimpang. Agama ini mengafirkan hampir seluruh sahabat, menganggap istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai pelacur, menganggap imam-imam punya kedudukan tertinggi yang tidak dicapai nabi/rasul dan malaikat yang terdekat, menganggap imam-imam mereka sebagai pemilik dunia dan isinya, menganggap kenabian Muhammad salah alamat karena Jibril berkhianat dan tidak memberikannya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, serta sederet kesesatan lainnya. Itu semua baru dari satu sisi.



✏️Jika mau berkaca dari sisi sejarah, Syiahlah yang menjadi biang keladi pertumpahan darah di dalam Islam.

✏️Pembunuh Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah pemeluk agama Majusi yang merupakan akar agama Syiah.

✏️Pembantaian Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, adalah hasil provokasi tokoh Yahudi pendiri Syiah, Abdullah bin Saba’. Jatuhnya Daulah Abbasiah adalah hasil pengkhianatan perdana menterinya yang Syiah, dan sebagainya. Demikian juga sekarang ini, pembantaian muslimin di Yaman, Syria, bergolaknya suhu politik di Timur Tengah, pembantaian minoritas Ahwaz di Iran yang Sunni, juga tak lepas dari tangan Syiah yang berlumur darah.

✏️Tidak cukupkah sejarah menyuguhkan episode demi episode berdarah Syiah, untuk kemudian kita “melek” terhadap Syiah? Orang-orang bisa tertipu dengan “heroisme” Syiah (baca: Iran) dalam “melawan” hegemoni AS di panggung politik dunia, tapi kami, Ahlus Sunnah tidak. Orang-orang bisa kagum dengan pasukan Hizbullah (baca: Syiah) yang “melawan” tentara pendudukan Israel (baca: Yahudi -ed), tapi kami tidak. Semua berita politik itu tak lebih hasil goreng-menggoreng penguasa opini dunia, Yahudi. Bagaimana pun, Syiah satu rahim dengan Yahudi. Yahudi akan sangat senang ada tangan (yang dianggap) Islam yang selalu menjadi duri dalam daging dalam tubuh Islam.

✏️Walau Syiah terpecah menjadi beberapa sekte, namun mayoritasnya adalah sekte Imamiyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok ini terusmenerus menebarkan berbagai macam kesesatannya—termasuk nikah mut’ah yang dijadikan daya tarik. Lebih-lebih kini didukung Iran, Irak, dan Syria yang kendali politiknya berada di tangan mereka—Syiah Rafidhah. Oleh karena itu, jangan teriak-teriak toleransi jika tidak tahu Syiah sama sekali, jangan teriak-teriak kebebasan beragama dan berkeyakinan jika kita tidak paham agama “made in Yahudi” ini, jangan sok teriak persatuan dan ukhuwah jika itu hanya demi simpati berbuah kursi. Toleransi ada tempatnya. Namun, faktanya, tidak ada tempat untuk toleransi dengan Syiah.

http://asysyariah.com/pengantar-redaksi-syiah-berlumuran-darah.html

🔳Telegram Selamatkan Indonesia dari Syiah

https://telegram.me/SelamatkanIndonesiadariSyiah

✏️Semoga menjadi pahala bagi yang ikut meyebarkan artikel ini.

Jumat, 04 Desember 2015

Di Manakah Allâh? (bagian 1)

بِسْمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ

DI MANAKAH ALLÂH?
Di manakah Allah

Banyak faedah yang dapat kita ambil jika kita mau memahami dengan saksama detail berbagai kisah di dalam Al Qur’an. Kisah-kisah yang Allâh subhânahu wa ta’âla cantumkan di dalamnya tentunya bukanlah kisah yang kosong makna dan tidak berfaedah. Kisah-kisah dalam Al Qur’an sangatlah kaya ibrah dan pelajaran berharga. Tentunya, hal ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah terbuka mata hatinya untuk mau mendalami dan mentadaburi Al Qur’an seayat demi seayat.


Di antara keyakinan yang menyebar luas di kalangan kaum mukminin adalah prasangka mereka bahwa Allâh ada di mana-mana. Tentunya kita sepakat bahwa ucapan atau pendapat dianggap benar jika dibangun di atas dalil Al Qur’an ataupun hadits Nabi Muhammad shalallâhu ‘alayhi wa sallam. Siapa pun yang mengucapkannya, jika sesuai dengan apa yang Allâh dan Rasûlullâh sampaikan, maka kita terima. Dan siapa pun yang mengucapkan suatu ucapan yang bertentangan dengan Al Quran ataupun ucapan Rasûlullâh shalallâhu ‘alayhi wa sallam, maka itu harus kita tolak dan harus kita yakini kesalahannya. Walaupun mungkin yang menyatakan ialah orang yang kita kagumi, yang kita muliakan dan yang kita jadikan sebagai panutan.


Nah, berkaitan dengan keyakinan bahwa Allâh ada di mana-mana, sebenarnya terdapat banyak dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menjelaskan salahnya pernyataan itu.

Satu kisah menarik akan kita bawakan. Dari kisah itu, kita akan tahu benar tidaknya pendapat yang menyatakan bahwa Allâh subhânahu wa ta’âla ada di mana-mana. Kisah ini ialah salah satu episode dari kisah perjalan dakwah Nabiyullâh Musa dan Harun ‘alayhimassalâm. Sepenggal kisah bersama musuh dakwah keduanya yang tak lain dan tak bukan, si durjana Fir’aun.

Allâh subhânahu wa ta’âla berfirman mengutip ucapan Fir’aun yang artinya,”Wahai Haman, buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi agar aku bisa sampai pada pintu-pintu itu. Yakni pintu-pintu laangit agar aku dapat melihat sesembahan Musa. Sungguh aku yakin bahwa Musa termasuk seorang pendusta.” (Qs. Al-Ghafir: 36-37)

Dalam ayat lain,”Dan berkatalah Fir’aun,’Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui adanya tuhan selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat (yakni untuk membuat bata) kemudian bangunkan untukku bangunan yang tinggi agar aku bisa melihat sesembahan Musa dan sungguh aku yakin bahwa Musa adalah seorang pendusta.’” (Qs. Al-Qashash: 38)

Selasa, 01 Desember 2015

Kisah Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dan Kakek Yang Faqir

بِسْمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ
KISAH AL IMAM IBNU JARIR ATH THABARI DAN KAKEK YANG FAKIR (KISAH BEGITU INDAH NAN MENGADUNG PELAJARAN)

Dikisahkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari penulis tafsir yang terkenal
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah bertutur: Ketika saya berada di Mekah pada musim haji, saya melihat seorang lelaki dari Khurasan berseru seraya berkata: Wahai sekalian jama’ah haji, wahai penduduk Mekah baik yang di kota maupun yang di desa! Sungguh aku telah kehilangan kantong berisikan uang seribu dinar, maka barang siapa yang mengembalikannya kepadaku, niscaya Allah akan membalasnya kebaikan dan membebaskannya dari neraka, dan ia akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar di hari perhitungan,,,

Maka berdirilah seorang kakek tua dari penduduk Mekah. Ia berkata kepadanya: Wahai orang Khurasan, negeri kami kondisinya keras sedangkan hari-hari haji dapat dihitung, musim-musimnya terbatas, dan pintu-pintu usaha tertutup. Maka bisa jadi harta itu jatuh ke tangan orang mukmin yang fakir lagi tua renta yang menginginkan jaminan (janji) darimu andai ia mengembalikan harta itu kepadamu. Maka berilah ia sedikit upah (hadiah) dan harta yang halal!